Selasa, 03 Mei 2011

Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah?

SEPERTI sudah kita ketahui, hari Senin (2/5), pasukan khusus teror Amerika Serikat, SEAL Team Six (ST6) dikabarkan telah berhasil menewaskan Usamah bin Ladin. Sosok yang disebut-sebut Amerika sebagai otak dari sejumlah aksi terror di penjuru dunia ini ditembak mati di kepalanya 40 menit setelah SEAL Team 6 melakukan penggerebekan di persembunyiannya di Abbotabat, salah satu kota di pedalaman Pakistan.

Obama mengumumkan kematian Usamah secara resmi pada pukul 10.30 WIB yang sontak rakyat AS merayakan kematian tersebut. Mereka berkumpul di depan gedung putih dan Ground Zero sambil bersorak-sorai layaknya ada sebuah perayaan besar. Sekjen PBB, Ban Ki Moon, turut bersuka cita atas tewasnya Usamah. Menurutnya, kematian Usamah adalah momen penting untuk melawan terorisme global. Umat muslim di AS pun turut bergembira dengan kabar kematian Usamah tersebut.

Mereka mengklaim, dengan tewasnya Usamah, ideologi kekerasan yang selama ini identik dengan ajaran agama Islam dapat diredam.Menurut John Esposito, salah satu profesor agama dan urusan internasional, tewasnya Usamah paling tidak dalam jangka pendek dapat mengurangi tekanan akan islamofobia yang banyak dialami oleh umat Muslim di Amerika Serikat.Senada dengan pernyataan tersebut, Imam Muhammad Musri dari Islam Society of Central Florida turut bergembira atas tewasnya Usamah. Ia menyebutkan, bahwa selama ini ia sudah berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa Islam tidak satu pemikiran dengan Usamah.

Di sisi lain, ada pula pihak yang tidak larut dalam sukacita tersebut, namun sebaliknya, mereka justru mengharapkan agar Usamah dapat dirahmati oleh Allah SWT. Hal ini seperti diungkapkan oleh juru bicara utama Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Abdul Rohim Ba’asyir. Menurut beliau, setiap jiwa pasti menemui ajalnya, namun semangat jihad tak akan terpengaruh dengan hidup dan matinya seorang manusia. Menurut pimpinan pusat Ansharullah, Fauzan Al-Anshari, kematian Usamah adalah syahid, yaitu kematian di jalan Allah. Menurutnya, setetes darah syuhada yang jatuh ke bumi akan melahirkan syuhada-syuhada yang lain. Hal senada diungkapkan oleh ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. Beliau mengungkapkan bahwa masyarakat kafir yang berpesta pora atas kematiannya adalah kemenangan Usamah sebagai syahid.

Dari statemen-statemen di atas, dapat kita simpulkan bahwa kematian Usamah telah mengundang pro dan kontra, apakah kematiannya merupakan suatu kesyukuran, atau justru kematiannya adalah suatu cobaan yang dapat mendorong umat Islam untuk lebih menyerahkan dirinya kepada Allah SWT.

Perjuangan “dakwah jihad” ala Usamah memang mengundang banyak kontroversi. Aksi-aksi pengeboman yang diidentikan terorisme oleh Amerika telah menjadi trademark tersendiri bagi Usamah. Jaringan Al-Qaidah yang dipimpinnya telah berulang kali disangkut-pautkan dengan aksi-aksi tersebut. Hal ini tentu saja menimbulkan pengecaman dari berbagai pihak. Aksinya yang kerap menimbulkan korban jiwa ini bukan sekali dua kali saja, namun sudah berkali-kali dan terjadi di berbagai belahan dunia, dari Amerika Serikat hingga Indonesia. Kenyataan ini menjadikan umat Islam kerap diidentikkan dengan kekerasan yang berujung pada terorisme. Dan tentu saja, banyak masyarakat non muslim yang terjangkit sindrom islamofobia gara-gara aksinya tersebut.

Di sisi lain, niatan jihad yang dibawa oleh Usamah --meskipun kerap menimbulkan kontroversi-- patut diapresiasi. Di zaman modern ini, tidak banyak orang yang berani menyuarakan suara jihad atas berbagai kedzaliman kuasa besar ala Amerika yang sedemikian lantangnya.Mungkin cara dia berjihad tidak diterima sebagaian orang. Hanya saja, yang kami tekankan di sini, adalah semangatnya untuk memperjuangkan agama Islam dan tidak gentar akan segala sesuatu, semangat yang mencerminkan keimanannya dan pembelaannya akan agamanya yang kerap diinjak-injak oleh negara-negara sekuler. Inilah yang perlu kita apresiasi dan bahkan kita tiru.

Jika ada rakyat Indonesia yang memiliki semangat militansi seperti Usamah, tentu saja negara kita tidak akan mudah diinjak oleh negara-negara lain. Selama ini, negara kita sudah kenyang diinjak-injak dan bahkan “dijajah”secara intelektual, kultur dan budaya. Kita lihat bagaimana Malaysia dengan gampangnya mengklaim blok Ambalat adalah wilayahnya. Nelayan Thailand dengan entengnya melanggar perbatasan dan melaut di perairan Indonesia. Belum lagi bentuk-bentuk penjajahan  dalam bentuk perdagangan, seperti membanjirnya produk impor dari China. Semua itu adalah bukti yang meguatkan bahwa Indonesia tidak memiliki tokoh sekaliber Usamah yang memiliki idealisme dan prinsip yang kuat dalam membela ideologinya.
Di sini, kami menyimpulkan, bahwa kematian Usamah sudah sepantasnya kita jadikan refleksi. Bagaimanapun, perjuangan Usamah tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan membela agamanya dengan caranya sendiri, sekalipun, mungkin ada banyak kesalahan dalam pengaplikasiannya.Dan yang patut kita contoh darinya adalah semangatnya dan kekuatan idealisme yang ia miliki, sehingga ke depannya kita dapat mengaplikannya ke dalam keyakinan kita dan umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas dapat turut memperjuangkan agamanya dan juga dapat memperjuangkan negaranya.

Karena itu terminologi “Alhamdulillah” dan “Innalillah” atas kematian Usmah ini tergantung pada siapa yang mengucapkannya. Bagi Amerika dan sekutunya, wajar jika ia gembira atau dalam istilah Islam mengucapkan “Alhamdulillah”. Tapi bagi kaum Muslim yang lain boleh jadi sebaliknya. Wallahu a’lam


Penulis adalah mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam Gontor, anggota Kajian Center for Islamic and Occidental Studies ISID Gontor
Foto: Warga Amerika gembira mendengar kematian Usamah

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selasa, 03 Mei 2011

Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah?

Diposting oleh Wanita Sholehah di 22.16
SEPERTI sudah kita ketahui, hari Senin (2/5), pasukan khusus teror Amerika Serikat, SEAL Team Six (ST6) dikabarkan telah berhasil menewaskan Usamah bin Ladin. Sosok yang disebut-sebut Amerika sebagai otak dari sejumlah aksi terror di penjuru dunia ini ditembak mati di kepalanya 40 menit setelah SEAL Team 6 melakukan penggerebekan di persembunyiannya di Abbotabat, salah satu kota di pedalaman Pakistan.

Obama mengumumkan kematian Usamah secara resmi pada pukul 10.30 WIB yang sontak rakyat AS merayakan kematian tersebut. Mereka berkumpul di depan gedung putih dan Ground Zero sambil bersorak-sorai layaknya ada sebuah perayaan besar. Sekjen PBB, Ban Ki Moon, turut bersuka cita atas tewasnya Usamah. Menurutnya, kematian Usamah adalah momen penting untuk melawan terorisme global. Umat muslim di AS pun turut bergembira dengan kabar kematian Usamah tersebut.

Mereka mengklaim, dengan tewasnya Usamah, ideologi kekerasan yang selama ini identik dengan ajaran agama Islam dapat diredam.Menurut John Esposito, salah satu profesor agama dan urusan internasional, tewasnya Usamah paling tidak dalam jangka pendek dapat mengurangi tekanan akan islamofobia yang banyak dialami oleh umat Muslim di Amerika Serikat.Senada dengan pernyataan tersebut, Imam Muhammad Musri dari Islam Society of Central Florida turut bergembira atas tewasnya Usamah. Ia menyebutkan, bahwa selama ini ia sudah berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa Islam tidak satu pemikiran dengan Usamah.

Di sisi lain, ada pula pihak yang tidak larut dalam sukacita tersebut, namun sebaliknya, mereka justru mengharapkan agar Usamah dapat dirahmati oleh Allah SWT. Hal ini seperti diungkapkan oleh juru bicara utama Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) Abdul Rohim Ba’asyir. Menurut beliau, setiap jiwa pasti menemui ajalnya, namun semangat jihad tak akan terpengaruh dengan hidup dan matinya seorang manusia. Menurut pimpinan pusat Ansharullah, Fauzan Al-Anshari, kematian Usamah adalah syahid, yaitu kematian di jalan Allah. Menurutnya, setetes darah syuhada yang jatuh ke bumi akan melahirkan syuhada-syuhada yang lain. Hal senada diungkapkan oleh ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq. Beliau mengungkapkan bahwa masyarakat kafir yang berpesta pora atas kematiannya adalah kemenangan Usamah sebagai syahid.

Dari statemen-statemen di atas, dapat kita simpulkan bahwa kematian Usamah telah mengundang pro dan kontra, apakah kematiannya merupakan suatu kesyukuran, atau justru kematiannya adalah suatu cobaan yang dapat mendorong umat Islam untuk lebih menyerahkan dirinya kepada Allah SWT.

Perjuangan “dakwah jihad” ala Usamah memang mengundang banyak kontroversi. Aksi-aksi pengeboman yang diidentikan terorisme oleh Amerika telah menjadi trademark tersendiri bagi Usamah. Jaringan Al-Qaidah yang dipimpinnya telah berulang kali disangkut-pautkan dengan aksi-aksi tersebut. Hal ini tentu saja menimbulkan pengecaman dari berbagai pihak. Aksinya yang kerap menimbulkan korban jiwa ini bukan sekali dua kali saja, namun sudah berkali-kali dan terjadi di berbagai belahan dunia, dari Amerika Serikat hingga Indonesia. Kenyataan ini menjadikan umat Islam kerap diidentikkan dengan kekerasan yang berujung pada terorisme. Dan tentu saja, banyak masyarakat non muslim yang terjangkit sindrom islamofobia gara-gara aksinya tersebut.

Di sisi lain, niatan jihad yang dibawa oleh Usamah --meskipun kerap menimbulkan kontroversi-- patut diapresiasi. Di zaman modern ini, tidak banyak orang yang berani menyuarakan suara jihad atas berbagai kedzaliman kuasa besar ala Amerika yang sedemikian lantangnya.Mungkin cara dia berjihad tidak diterima sebagaian orang. Hanya saja, yang kami tekankan di sini, adalah semangatnya untuk memperjuangkan agama Islam dan tidak gentar akan segala sesuatu, semangat yang mencerminkan keimanannya dan pembelaannya akan agamanya yang kerap diinjak-injak oleh negara-negara sekuler. Inilah yang perlu kita apresiasi dan bahkan kita tiru.

Jika ada rakyat Indonesia yang memiliki semangat militansi seperti Usamah, tentu saja negara kita tidak akan mudah diinjak oleh negara-negara lain. Selama ini, negara kita sudah kenyang diinjak-injak dan bahkan “dijajah”secara intelektual, kultur dan budaya. Kita lihat bagaimana Malaysia dengan gampangnya mengklaim blok Ambalat adalah wilayahnya. Nelayan Thailand dengan entengnya melanggar perbatasan dan melaut di perairan Indonesia. Belum lagi bentuk-bentuk penjajahan  dalam bentuk perdagangan, seperti membanjirnya produk impor dari China. Semua itu adalah bukti yang meguatkan bahwa Indonesia tidak memiliki tokoh sekaliber Usamah yang memiliki idealisme dan prinsip yang kuat dalam membela ideologinya.
Di sini, kami menyimpulkan, bahwa kematian Usamah sudah sepantasnya kita jadikan refleksi. Bagaimanapun, perjuangan Usamah tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan membela agamanya dengan caranya sendiri, sekalipun, mungkin ada banyak kesalahan dalam pengaplikasiannya.Dan yang patut kita contoh darinya adalah semangatnya dan kekuatan idealisme yang ia miliki, sehingga ke depannya kita dapat mengaplikannya ke dalam keyakinan kita dan umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas dapat turut memperjuangkan agamanya dan juga dapat memperjuangkan negaranya.

Karena itu terminologi “Alhamdulillah” dan “Innalillah” atas kematian Usmah ini tergantung pada siapa yang mengucapkannya. Bagi Amerika dan sekutunya, wajar jika ia gembira atau dalam istilah Islam mengucapkan “Alhamdulillah”. Tapi bagi kaum Muslim yang lain boleh jadi sebaliknya. Wallahu a’lam


Penulis adalah mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam Gontor, anggota Kajian Center for Islamic and Occidental Studies ISID Gontor
Foto: Warga Amerika gembira mendengar kematian Usamah

Sumber

0 komentar on "Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah?"

Posting Komentar