Minggu, 24 April 2011

A Necessary Evil Bernama Pasar...


SALAH satu tempat yang paling dibenci oleh Allah di muka bumi ini adalah pasar. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar." (Shahih Muslim, 1076).Tetapi sepintas mungkin nampak ironi bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahkan juga mendirikan  pasar bagi kaum muslimin. Mengapa demikian?

Inilah apa yang dalam istilah modern disebut a necessary evil, yaitu bisa jadi suatu hal itu banyak keburukannya – tetapi keberadaannya diperlukan. Justru di sinilah letak sempurnanya agama ini, bahkan untuk mengatasi atau mengelola tempat yang paling dibenci Allah pun ada tuntunannya.Allah dan RasulNya tentu lebih mengetahui mengapa pasar menjadi tempat yang dibenci olehNya, tetapi bisa jadi ini karena di pasar pada umumnya banyak sekali penipuan, pengelabuhan, pengurangan timbangan, sumpah palsu, dan berbagai kecurangan lainnya.

Bila pasar diartikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maka ‘pasar’ yang paling dibenci Allah itu pun kini  menjadi sangat luas cakupannya. Karena banyak sekali kebutuhan kita sekarang yang tidak lagi kita beli di ‘pasar’ dalam arti fisik. Kita bisa membeli kebutuhan kita atas barang atau jasa  lewat internet, lewat kantor-kantor perusahaan penyedia barang dan jasa, atau bahkan salesmannya yang datang ke rumah-rumah kita untuk menjajakan produknya.
Lantas apakah tempat-tempat ‘jualan’ yang kini,  termasuk kantor atau juga rumah-rumah yang dijadikan tempat usaha tersebut, juga menjadi tempat yang dibenci Allah?

Bisa jadi, bila di dalamnya dilakukan berbagai penipuan, kecurangan, dan lain sebagainya.  Tetapi kita bisa belajar dari para sahabat beliau, yang tentu lebih paham makna dari hadits tersebut di atas dibandingkan dengan kita-kita di zaman ini. Para sahabat beliau dari kaum Muhajirin, yang rata-rata aslinya memang pedagang di Makkah, tetap melakukan jual beli di pasar sampai akhir usianya, kecuali yang mendapatkan tugas-tugas khusus, seperti menjadi khalifah,  gubernur, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian sahabat ini pun dijamin masuk surga, seperti sahabat yang super kaya melalui kepandaiannya berdagang di pasar, yaitu  Abdur Rahman Bin ‘Auf.

Jadi untuk selamat dari ‘tempat terburuk’ yang berupa pasar ini kita bisa belajar dari para sahabat dalam menyikapi hadits ‘peringatan’ seperti tersebut di atas. Tidak serta merta kita jauhi pasar, karena bila ini yang dilakukan, maka pasar akan dikuasai kaum yang lain yang malah bisa merugikan umat secara keseluruhan.Sebaliknya kita juga harus mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendirikan pasar ini bahwa umat ini harus memiliki pasarnya sendiri, sehingga bisa terbangun di dalamnya budaya jual beli yang syar’i dan mendatangkan berkah, dan terbebas dari ketergantungan terhadap pasarnya ‘yahudi’.

Begitu detilnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajari umatnya untuk bisa memperoleh beribu-ribu kebaikan, terhapusnya beribu-ribu  keburukan, dan terangkatnya kedudukan beribu-ribu derajat, bahkan bisa datang dari tempat yang dibenci oleh Allah sekalipun, yaitu pasar ini. Beliau pun mengajari kita untuk berdoa sebelum memasuki pasar melalui sabdanya:

"Barangsiapa yang memasuki pasar lalu mengucapkan; LAA ILAHA ILLAALLAH WAHDAHU LAA SYRIKALAH LAHUL MULKU WA LAHL HAMDU YUHYI WA YUMIT WA HUWA HAYYUN LAA YAMUT BIYADIHIL KHAIR WA HUWA 'ALA KULLI SYAI`IN QADIR (Tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, Dia Hidup dan tidak mati, seluruh kebaikan ada di TanganNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka Allah akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat." Ketika aku tiba di Khurasan dan bertemu dengan Qutaibah bin Muslim, aku berkata; Aku datang kepadamu membawa sebuah hadiah, lalu aku menceritakan hadits itu kepadanya. Ia pun segera mengendarai tungganganya dan menuju ke pasar. Ia berdiri dan membacanya, kemudian kembali pulang.” (Sunan Darimi, Hadits no 2576).

Hadits ini menginspirasi saya bahwa suatu saat kelak ketika Bazaar Madinah telah meluas dan ada di mana-mana, di pintu-pintunya ada tulisan besar yang isinya do’a untuk memasuki pasar tersebut. Dengan demikian beribu-ribu orang akan memperoleh “ ...beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya, dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat...”

Bila di pasar saja orang bisa memperoleh kebaikan, tentu di tempat yang paling Allah cintai – di masjid-- akan lebih banyak lagi kebaikannya. Maka mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pula, pasar atau bazaar-bazaar yang kita dirikan nantinya tidak terlalu jauh dari masjid agar orang tidak lalai dengan jual beli atau perniagaannya, dan tidak terlalu dekat pula agar keramaian atau kebisingan pasar tidak mengganggu aktifitas masjid.

Bazaar Madinah yang pertama kami dirikan berada dalam radius beberapa ratus meter dari 3 masjid dan dua surau sekaligus, dengan demikian kami berharap para lelaki (rijal) yang beraktivitas di dalamnya masuk kategori “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” Amin.(QS 24:37).*


Penulis adalah Direktur Geraidinar. Kolumnis www.hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Minggu, 24 April 2011

A Necessary Evil Bernama Pasar...

Diposkan oleh Wanita Sholehah di 04.08

SALAH satu tempat yang paling dibenci oleh Allah di muka bumi ini adalah pasar. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar." (Shahih Muslim, 1076).Tetapi sepintas mungkin nampak ironi bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahkan juga mendirikan  pasar bagi kaum muslimin. Mengapa demikian?

Inilah apa yang dalam istilah modern disebut a necessary evil, yaitu bisa jadi suatu hal itu banyak keburukannya – tetapi keberadaannya diperlukan. Justru di sinilah letak sempurnanya agama ini, bahkan untuk mengatasi atau mengelola tempat yang paling dibenci Allah pun ada tuntunannya.Allah dan RasulNya tentu lebih mengetahui mengapa pasar menjadi tempat yang dibenci olehNya, tetapi bisa jadi ini karena di pasar pada umumnya banyak sekali penipuan, pengelabuhan, pengurangan timbangan, sumpah palsu, dan berbagai kecurangan lainnya.

Bila pasar diartikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maka ‘pasar’ yang paling dibenci Allah itu pun kini  menjadi sangat luas cakupannya. Karena banyak sekali kebutuhan kita sekarang yang tidak lagi kita beli di ‘pasar’ dalam arti fisik. Kita bisa membeli kebutuhan kita atas barang atau jasa  lewat internet, lewat kantor-kantor perusahaan penyedia barang dan jasa, atau bahkan salesmannya yang datang ke rumah-rumah kita untuk menjajakan produknya.
Lantas apakah tempat-tempat ‘jualan’ yang kini,  termasuk kantor atau juga rumah-rumah yang dijadikan tempat usaha tersebut, juga menjadi tempat yang dibenci Allah?

Bisa jadi, bila di dalamnya dilakukan berbagai penipuan, kecurangan, dan lain sebagainya.  Tetapi kita bisa belajar dari para sahabat beliau, yang tentu lebih paham makna dari hadits tersebut di atas dibandingkan dengan kita-kita di zaman ini. Para sahabat beliau dari kaum Muhajirin, yang rata-rata aslinya memang pedagang di Makkah, tetap melakukan jual beli di pasar sampai akhir usianya, kecuali yang mendapatkan tugas-tugas khusus, seperti menjadi khalifah,  gubernur, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian sahabat ini pun dijamin masuk surga, seperti sahabat yang super kaya melalui kepandaiannya berdagang di pasar, yaitu  Abdur Rahman Bin ‘Auf.

Jadi untuk selamat dari ‘tempat terburuk’ yang berupa pasar ini kita bisa belajar dari para sahabat dalam menyikapi hadits ‘peringatan’ seperti tersebut di atas. Tidak serta merta kita jauhi pasar, karena bila ini yang dilakukan, maka pasar akan dikuasai kaum yang lain yang malah bisa merugikan umat secara keseluruhan.Sebaliknya kita juga harus mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendirikan pasar ini bahwa umat ini harus memiliki pasarnya sendiri, sehingga bisa terbangun di dalamnya budaya jual beli yang syar’i dan mendatangkan berkah, dan terbebas dari ketergantungan terhadap pasarnya ‘yahudi’.

Begitu detilnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajari umatnya untuk bisa memperoleh beribu-ribu kebaikan, terhapusnya beribu-ribu  keburukan, dan terangkatnya kedudukan beribu-ribu derajat, bahkan bisa datang dari tempat yang dibenci oleh Allah sekalipun, yaitu pasar ini. Beliau pun mengajari kita untuk berdoa sebelum memasuki pasar melalui sabdanya:

"Barangsiapa yang memasuki pasar lalu mengucapkan; LAA ILAHA ILLAALLAH WAHDAHU LAA SYRIKALAH LAHUL MULKU WA LAHL HAMDU YUHYI WA YUMIT WA HUWA HAYYUN LAA YAMUT BIYADIHIL KHAIR WA HUWA 'ALA KULLI SYAI`IN QADIR (Tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, Dia Hidup dan tidak mati, seluruh kebaikan ada di TanganNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka Allah akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat." Ketika aku tiba di Khurasan dan bertemu dengan Qutaibah bin Muslim, aku berkata; Aku datang kepadamu membawa sebuah hadiah, lalu aku menceritakan hadits itu kepadanya. Ia pun segera mengendarai tungganganya dan menuju ke pasar. Ia berdiri dan membacanya, kemudian kembali pulang.” (Sunan Darimi, Hadits no 2576).

Hadits ini menginspirasi saya bahwa suatu saat kelak ketika Bazaar Madinah telah meluas dan ada di mana-mana, di pintu-pintunya ada tulisan besar yang isinya do’a untuk memasuki pasar tersebut. Dengan demikian beribu-ribu orang akan memperoleh “ ...beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya, dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat...”

Bila di pasar saja orang bisa memperoleh kebaikan, tentu di tempat yang paling Allah cintai – di masjid-- akan lebih banyak lagi kebaikannya. Maka mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pula, pasar atau bazaar-bazaar yang kita dirikan nantinya tidak terlalu jauh dari masjid agar orang tidak lalai dengan jual beli atau perniagaannya, dan tidak terlalu dekat pula agar keramaian atau kebisingan pasar tidak mengganggu aktifitas masjid.

Bazaar Madinah yang pertama kami dirikan berada dalam radius beberapa ratus meter dari 3 masjid dan dua surau sekaligus, dengan demikian kami berharap para lelaki (rijal) yang beraktivitas di dalamnya masuk kategori “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” Amin.(QS 24:37).*


Penulis adalah Direktur Geraidinar. Kolumnis www.hidayatullah.com

0 komentar on "A Necessary Evil Bernama Pasar..."

Poskan Komentar