Sabtu, 06 Agustus 2011

Ibu-ibu Muslimah Kanada: Antara Rumah Tangga dan Kerja

Awal Juli lalu, masyarakat Kanada terlibat dalam suatu percakapan dunia maya dengan tujuan meningkatkan pemahaman mereka tentang Muslim, komunitas non-Kristen utama yang menurut perkiraan pemerintah mencapai 1,1 juta jiwa pada 2011 atau 3,2 persen dari total penduduk Kanada. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh harian nasional , The Globe and Mail, yang memuat serangkaian artikel tentang Muslim dan mengundang pembaca berkomentar atau bertanya.

Para pembaca umumnya ingin tahu bagaimana orang Muslim mendamaikan gaya hidup mereka, yang terilhami oleh sebuah agama dari abad ketujuh, dengan nilai-nilai egaliter masyarakat modern yang sekuler. Salah satu tema pentingnya adalah relasi jender dan persepsi keliru bahwa para perempuan Muslim cukuplah menikah, punya anak, dan berdiam di rumah melayani laki-laki mereka.

Para pembaca Muslimah menekankan kesetaraan jender dalam Islam dan mengajak para peserta untuk tidak cuma berfokus kepada jilbab dan melihat keragaman gaya hidup, pemikiran dan pilihan di kalangan Muslim Kanada.

Mereka mengakui bahwa banyak institusi dan organisasi Muslim tradisional di Kanada tidak memberi peran penting bagi perempuan tetapi menolak pandangan kalau perempuan ditindas di rumah tangga mereka.

Anggapan bahwa wanita Muslimah adalah para ibu rumah tangga penuh-waktu membuat mereka berjarak dengan masyarakat arus utama di Kanada, yang menganggap masuknya perempuan dalam bursa tenaga kerja sebagai sebuah tonggak gerakan hak-hak perempuan.

Namun, dengan menentang tradisi yang membatasi aktivitas mereka hanya di rumah, dan tidak terpengaruh oleh para majikan di Kanada yang meremehkan atau memandang sebelah mata reputasi mereka, ibu-ibu Muslimah yang punya anak-anak di rumah kini banyak yang masuk ke bursa tenaga kerja dalam jumlah yang melebihi sebelum-sebelumnya, dalam bidang-bidang seperti layanan kesehatan, pendidikan dan manajemen, sehingga turut melancarkan kekuatan ekonomi laten Kanada dan mengubah peran ekonomi suami dan istri. Bahkan, sebagian wanita ini adalah pencari nafkah utama keluarga.

Banyak ibu mengemban peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah atas pilihan sendiri, meski itu menjadi beban ganda, demi mewujudkan potensi penuh mereka.

Mereka digerakkan oleh hasrat untuk memanfaatkan pendidikan mereka demi pengembangan pribadi dan kemajuan masyarakat di mana mereka tinggal dan bekerja. Banyak perempuan Muslimah pertama kali datang ke Kanada pada 1960-an dan 1970-an sebagai pelajar/mahasiswa dan peserta pelatihan. Kini tenaga kerja wanita Muslimah termasuk kelompok dwibahasa (Inggris dan Prancis) paling terdidik di Kanada.

Menurut sensus tahun 2001, sensus terakhir yang merinci komunitas agama, 50 persen perempuan Muslimah dengan anak-anak usia pra-sekolah dan usia sekolah telah atau pernah mendapat pekerjaan, menyamai atau melampaui tingkat partisipasi di bursa kerja para perempuan Eropa di negara-negara seperti Italia dan Spanyol. Angka ini tidak menyertakan para ibu ambisius yang meninggalkan pekerjaan mereka untuk kembali menempuh studi guna meningkatkan kualifikasi mereka dengan harapan nantinya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Sensus tersebut juga menunjukkan bahwa secara finansial, banyak perempuan Muslimah mendapat penghasilan lebih baik dari lelaki Muslim. Sebagian mereka menjadi konsultan sukses sementara yang lain memegang posisi tinggi. Perempuan hanyalah sepertiga dari total tenaga kerja Muslim, tetapi melebihi lelaki Muslim dalam pekerjaan terkait kesehatan. Menurut sensus tersebut, mereka juga lebih sering mendapatkan pekerjaan yang lumayan menghasilkan lainnya seperti dalam bidang hukum, sebuah fenomena yang baru tumbuh beberapa tahun belakangan ini.

Meski sebagian Muslimah Kanada ingin bekerja dengan bekal gelar dan pelatihan mereka, yang lainnya dipaksa oleh keadaan untuk mengemban peran pemberi nafkah. Termasuk dalam kelompok ini adalah para perempuan yang dicerai atau berpisah jauh dari suami. Mereka harus bekerja demi memberi makan dan tempat tinggal anak-anak mereka, dan mereka pun harus bisa merawat keluarga. Jumlah mereka tidak kecil: sepuluh persen dari anak-anak Muslim di Kanada tinggal bersama orangtua tunggal dan, dalam empat dari lima keluarga semacam itu, orangtuanya adalah ibu.

Sebagian besar ibu Muslimah sama seperti ibu-ibu Kanada lainnya, mencoba menyeimbangkan antara keluarga dan kerja, dan menegosiasikan ulang pembagian tanggung jawab rumah tangga. Mereka tidak menganggap peran-ganda mereka sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah bertentangan dengan agama mereka, dan memandang bahwa sebagian kebiasaan yang diwariskan sebagai kewajiban agama – seperti pembatasan perempuan kepada urusan rumah saja – sebenarnya adalah produk situasi sosial masa lalu dan karenanya bisa disesuaikan dengan masa dan lingkungan yang berbeda.
Daood Hamdani. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)


Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sabtu, 06 Agustus 2011

Ibu-ibu Muslimah Kanada: Antara Rumah Tangga dan Kerja

Diposkan oleh Wanita Sholehah di 02.40
Awal Juli lalu, masyarakat Kanada terlibat dalam suatu percakapan dunia maya dengan tujuan meningkatkan pemahaman mereka tentang Muslim, komunitas non-Kristen utama yang menurut perkiraan pemerintah mencapai 1,1 juta jiwa pada 2011 atau 3,2 persen dari total penduduk Kanada. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh harian nasional , The Globe and Mail, yang memuat serangkaian artikel tentang Muslim dan mengundang pembaca berkomentar atau bertanya.

Para pembaca umumnya ingin tahu bagaimana orang Muslim mendamaikan gaya hidup mereka, yang terilhami oleh sebuah agama dari abad ketujuh, dengan nilai-nilai egaliter masyarakat modern yang sekuler. Salah satu tema pentingnya adalah relasi jender dan persepsi keliru bahwa para perempuan Muslim cukuplah menikah, punya anak, dan berdiam di rumah melayani laki-laki mereka.

Para pembaca Muslimah menekankan kesetaraan jender dalam Islam dan mengajak para peserta untuk tidak cuma berfokus kepada jilbab dan melihat keragaman gaya hidup, pemikiran dan pilihan di kalangan Muslim Kanada.

Mereka mengakui bahwa banyak institusi dan organisasi Muslim tradisional di Kanada tidak memberi peran penting bagi perempuan tetapi menolak pandangan kalau perempuan ditindas di rumah tangga mereka.

Anggapan bahwa wanita Muslimah adalah para ibu rumah tangga penuh-waktu membuat mereka berjarak dengan masyarakat arus utama di Kanada, yang menganggap masuknya perempuan dalam bursa tenaga kerja sebagai sebuah tonggak gerakan hak-hak perempuan.

Namun, dengan menentang tradisi yang membatasi aktivitas mereka hanya di rumah, dan tidak terpengaruh oleh para majikan di Kanada yang meremehkan atau memandang sebelah mata reputasi mereka, ibu-ibu Muslimah yang punya anak-anak di rumah kini banyak yang masuk ke bursa tenaga kerja dalam jumlah yang melebihi sebelum-sebelumnya, dalam bidang-bidang seperti layanan kesehatan, pendidikan dan manajemen, sehingga turut melancarkan kekuatan ekonomi laten Kanada dan mengubah peran ekonomi suami dan istri. Bahkan, sebagian wanita ini adalah pencari nafkah utama keluarga.

Banyak ibu mengemban peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah atas pilihan sendiri, meski itu menjadi beban ganda, demi mewujudkan potensi penuh mereka.

Mereka digerakkan oleh hasrat untuk memanfaatkan pendidikan mereka demi pengembangan pribadi dan kemajuan masyarakat di mana mereka tinggal dan bekerja. Banyak perempuan Muslimah pertama kali datang ke Kanada pada 1960-an dan 1970-an sebagai pelajar/mahasiswa dan peserta pelatihan. Kini tenaga kerja wanita Muslimah termasuk kelompok dwibahasa (Inggris dan Prancis) paling terdidik di Kanada.

Menurut sensus tahun 2001, sensus terakhir yang merinci komunitas agama, 50 persen perempuan Muslimah dengan anak-anak usia pra-sekolah dan usia sekolah telah atau pernah mendapat pekerjaan, menyamai atau melampaui tingkat partisipasi di bursa kerja para perempuan Eropa di negara-negara seperti Italia dan Spanyol. Angka ini tidak menyertakan para ibu ambisius yang meninggalkan pekerjaan mereka untuk kembali menempuh studi guna meningkatkan kualifikasi mereka dengan harapan nantinya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Sensus tersebut juga menunjukkan bahwa secara finansial, banyak perempuan Muslimah mendapat penghasilan lebih baik dari lelaki Muslim. Sebagian mereka menjadi konsultan sukses sementara yang lain memegang posisi tinggi. Perempuan hanyalah sepertiga dari total tenaga kerja Muslim, tetapi melebihi lelaki Muslim dalam pekerjaan terkait kesehatan. Menurut sensus tersebut, mereka juga lebih sering mendapatkan pekerjaan yang lumayan menghasilkan lainnya seperti dalam bidang hukum, sebuah fenomena yang baru tumbuh beberapa tahun belakangan ini.

Meski sebagian Muslimah Kanada ingin bekerja dengan bekal gelar dan pelatihan mereka, yang lainnya dipaksa oleh keadaan untuk mengemban peran pemberi nafkah. Termasuk dalam kelompok ini adalah para perempuan yang dicerai atau berpisah jauh dari suami. Mereka harus bekerja demi memberi makan dan tempat tinggal anak-anak mereka, dan mereka pun harus bisa merawat keluarga. Jumlah mereka tidak kecil: sepuluh persen dari anak-anak Muslim di Kanada tinggal bersama orangtua tunggal dan, dalam empat dari lima keluarga semacam itu, orangtuanya adalah ibu.

Sebagian besar ibu Muslimah sama seperti ibu-ibu Kanada lainnya, mencoba menyeimbangkan antara keluarga dan kerja, dan menegosiasikan ulang pembagian tanggung jawab rumah tangga. Mereka tidak menganggap peran-ganda mereka sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah bertentangan dengan agama mereka, dan memandang bahwa sebagian kebiasaan yang diwariskan sebagai kewajiban agama – seperti pembatasan perempuan kepada urusan rumah saja – sebenarnya adalah produk situasi sosial masa lalu dan karenanya bisa disesuaikan dengan masa dan lingkungan yang berbeda.
Daood Hamdani. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)


Sumber

0 komentar on "Ibu-ibu Muslimah Kanada: Antara Rumah Tangga dan Kerja"

Poskan Komentar