Minggu, 12 Juni 2011

Rahasia Sukses Nuryati Seorang TKI Yang Kini Jadi Dosen

Pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan kepada Nuryati Solapari, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW), yang saat ini bekerja sebagai dosen dan mengajar bidang hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang

Motivator calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Nurhayati Solapatri termasuk orang yang cerdik. Wanita yang kini menjadi dosen Sultan Ageng Tirtayasa ini memberikan tips kepada para 100 calon TKI yang akan berangkat ke Taiwan dan Hongkong di Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta Selatan, Sabtu (11/6/2011).


Nurhayati menceritakan ketika dirinya menjadi seorang TKI ke negeri Arab diawali keputusasaan sulitnya mendapatkan uang untuk biaya kuliah, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Banten dengan tujuan untuk bisa berkuliah.

“Saya waktu itu ingin kuliah dan kemudian saya berfikir menjadi TKI,” kata ibu tiga anak ini. Pengalamannya tidak terlalu manis, PJTKI yang merekrut dirinya tidak memberikan pelatihan apa pun, sehingga Nurhayati harus belajar secara otodidak. “Saya waktu itu diberi sertifikat keahlian, tetapi sebenarnya saya tidak diberikan pelatihan,” ucapnya.


Sadar bahwa budaya di Arab Saudi pasti berbeda dengan budaya di Indonesia, ia pun akhirnya banyak menggali informasi tentang budaya dari TKI-TKI yang pernah bekerja di Arab Saudi. “Saya selalu mencatat apa-apa yang penting dalam buku kecil. Jadi setiap ada sesuatu, saya selalu buka buku ajaib tersebut,” ungkapnya.


Saat berangkat ke Arab Saudi tahun 1998, sebelum naik pesawat ia membeli sebuah jarum dan benang, sehingga saat di dalam pesawat ia menulis nomor-nomor penting yang ia bisa hubungi ketika dirinya nanti bermasalah di negeri orang. “Saya tulis dengan benang dan jarum tersebut nomor-nomor penting, sehingga kerudung saya isinya nomor telepon semua. Tetapi yang ditulis bukan nomor, tapi kode-kode supaya tidak dicurigai majikan nanti,” kenangnya.


Ia pun menceritakan sebuah contoh perbedaan budaya antara Arab Saudi dengan Indonesia. ketika ia akan memandikan anak majikannya, tiba-tiba majikannya marah memarahi dirinya. “Kamu gila,” kata Nurhayati mencontohkan majikannya. tetapi dari kesalahan tersebut ia baru tahu, kalau di orang Arab ternya mandinya tidak setiap hari. “Waktu itu majikan saya meminta saya memandikan anaknya dua kali seminggu, senin dan kamis,” ucapnya.


Selain itu, ia menceritakan kepada para calon TKI kalau di Arab wanita itu harus bersifat sinis kepada kaum pria. “Kalau wanita itu menjawab pertanyaan sambil senyum-senyum, itu akan diartikan wanita tersebut suka pada laki-laki yang menanyanya,” cerita NurhayatiTujuannya yang jelas saat menjadi TKI, membuat Nurhayati selalu bekerja dengan target, bahkan ia pun sengaja membawa buku-buku pelajaran di SMA-nya ke Arab Saudi. Sehingga ia bisa bekerja diperantauan sambil belajar kembali ilmu-ilmu yang pernah diajarkan di bangku sekolah.


Sehingga saat ia kembali ke Indonesia dengan berbekal modal uang jerih payahnya menjadi TKI selama dua tahun. Ia pun mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. “Kemudian saya masuk universitas negeri, dan bisa lulus 3,5 tahun dari jurusan hukum,” ucapnya.


Ia memberikan pun memberikan cara bagaimana supaya uang gaji menjadi TKI tidak habis. Menurutnya uang yang gaji dari majikannya harus selalu diambil tiap bulan, jangan dinanti-nantikan karena hal tersebut yang mengakibatkan majikan tidak membayar gaji TKI. Kemudian uang yang diterimanya ia kirim ke kampung dan dibelikan sawah sebagai lahan investasi.


Tidak berhenti sampai sana perjuangannya, ia saat kuliah pun membuka katering dan tetap bekerja di sebuah restoran untuk membiayai kuliahnya. Sehingga usaha kerasnya tersebut sekarang membuahkan hasil, dengan gelar S2 yang disandangnya, ia pun menjadi dosen di universitas tempat dirinya menimba ilmu yang memberinya gelar sarjana.


Dari cerita Nurhayati, mungkin kita bisa belajar sebuah arti kehidupan. Seorang TKI bisa menjadi orang yang sukses dan mewujudkan impian kita. “Pokoknya kalau jadi TKI jangan pernah berniat untuk jadi Tki yang kedua kali, cukup satu kali. Sehingga saat menjadi TKI kita harus mempunyai tujuan,” ucapnya.Pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan kepada Nuryati Solapari, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW), yang saat ini bekerja sebagai dosen dan mengajar bidang hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten. Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, Majed Abdulaziz Al-Dayel.


Acara pemberian penghargaan berlangsung di Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Selasa (28/12), dan dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Abdulwahid Maktub, sejumlah pejabat kedutaan, dan Nuryati beserta keluarganya. Dalam sambutannya, Al-Dayel mengatakan di tengah cerita sukses yang dialami ribuan TKI di negaranya, terdapat pula kasus khusus yang dialami sebagian TKI akibat tindakan yang dilakukan segelintir majikan mereka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Minggu, 12 Juni 2011

Rahasia Sukses Nuryati Seorang TKI Yang Kini Jadi Dosen

Diposkan oleh Wanita Sholehah di 02.48
Pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan kepada Nuryati Solapari, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW), yang saat ini bekerja sebagai dosen dan mengajar bidang hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang

Motivator calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Nurhayati Solapatri termasuk orang yang cerdik. Wanita yang kini menjadi dosen Sultan Ageng Tirtayasa ini memberikan tips kepada para 100 calon TKI yang akan berangkat ke Taiwan dan Hongkong di Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta Selatan, Sabtu (11/6/2011).


Nurhayati menceritakan ketika dirinya menjadi seorang TKI ke negeri Arab diawali keputusasaan sulitnya mendapatkan uang untuk biaya kuliah, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Banten dengan tujuan untuk bisa berkuliah.

“Saya waktu itu ingin kuliah dan kemudian saya berfikir menjadi TKI,” kata ibu tiga anak ini. Pengalamannya tidak terlalu manis, PJTKI yang merekrut dirinya tidak memberikan pelatihan apa pun, sehingga Nurhayati harus belajar secara otodidak. “Saya waktu itu diberi sertifikat keahlian, tetapi sebenarnya saya tidak diberikan pelatihan,” ucapnya.


Sadar bahwa budaya di Arab Saudi pasti berbeda dengan budaya di Indonesia, ia pun akhirnya banyak menggali informasi tentang budaya dari TKI-TKI yang pernah bekerja di Arab Saudi. “Saya selalu mencatat apa-apa yang penting dalam buku kecil. Jadi setiap ada sesuatu, saya selalu buka buku ajaib tersebut,” ungkapnya.


Saat berangkat ke Arab Saudi tahun 1998, sebelum naik pesawat ia membeli sebuah jarum dan benang, sehingga saat di dalam pesawat ia menulis nomor-nomor penting yang ia bisa hubungi ketika dirinya nanti bermasalah di negeri orang. “Saya tulis dengan benang dan jarum tersebut nomor-nomor penting, sehingga kerudung saya isinya nomor telepon semua. Tetapi yang ditulis bukan nomor, tapi kode-kode supaya tidak dicurigai majikan nanti,” kenangnya.


Ia pun menceritakan sebuah contoh perbedaan budaya antara Arab Saudi dengan Indonesia. ketika ia akan memandikan anak majikannya, tiba-tiba majikannya marah memarahi dirinya. “Kamu gila,” kata Nurhayati mencontohkan majikannya. tetapi dari kesalahan tersebut ia baru tahu, kalau di orang Arab ternya mandinya tidak setiap hari. “Waktu itu majikan saya meminta saya memandikan anaknya dua kali seminggu, senin dan kamis,” ucapnya.


Selain itu, ia menceritakan kepada para calon TKI kalau di Arab wanita itu harus bersifat sinis kepada kaum pria. “Kalau wanita itu menjawab pertanyaan sambil senyum-senyum, itu akan diartikan wanita tersebut suka pada laki-laki yang menanyanya,” cerita NurhayatiTujuannya yang jelas saat menjadi TKI, membuat Nurhayati selalu bekerja dengan target, bahkan ia pun sengaja membawa buku-buku pelajaran di SMA-nya ke Arab Saudi. Sehingga ia bisa bekerja diperantauan sambil belajar kembali ilmu-ilmu yang pernah diajarkan di bangku sekolah.


Sehingga saat ia kembali ke Indonesia dengan berbekal modal uang jerih payahnya menjadi TKI selama dua tahun. Ia pun mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. “Kemudian saya masuk universitas negeri, dan bisa lulus 3,5 tahun dari jurusan hukum,” ucapnya.


Ia memberikan pun memberikan cara bagaimana supaya uang gaji menjadi TKI tidak habis. Menurutnya uang yang gaji dari majikannya harus selalu diambil tiap bulan, jangan dinanti-nantikan karena hal tersebut yang mengakibatkan majikan tidak membayar gaji TKI. Kemudian uang yang diterimanya ia kirim ke kampung dan dibelikan sawah sebagai lahan investasi.


Tidak berhenti sampai sana perjuangannya, ia saat kuliah pun membuka katering dan tetap bekerja di sebuah restoran untuk membiayai kuliahnya. Sehingga usaha kerasnya tersebut sekarang membuahkan hasil, dengan gelar S2 yang disandangnya, ia pun menjadi dosen di universitas tempat dirinya menimba ilmu yang memberinya gelar sarjana.


Dari cerita Nurhayati, mungkin kita bisa belajar sebuah arti kehidupan. Seorang TKI bisa menjadi orang yang sukses dan mewujudkan impian kita. “Pokoknya kalau jadi TKI jangan pernah berniat untuk jadi Tki yang kedua kali, cukup satu kali. Sehingga saat menjadi TKI kita harus mempunyai tujuan,” ucapnya.Pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan kepada Nuryati Solapari, mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW), yang saat ini bekerja sebagai dosen dan mengajar bidang hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten. Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, Majed Abdulaziz Al-Dayel.


Acara pemberian penghargaan berlangsung di Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Selasa (28/12), dan dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Abdulwahid Maktub, sejumlah pejabat kedutaan, dan Nuryati beserta keluarganya. Dalam sambutannya, Al-Dayel mengatakan di tengah cerita sukses yang dialami ribuan TKI di negaranya, terdapat pula kasus khusus yang dialami sebagian TKI akibat tindakan yang dilakukan segelintir majikan mereka.


0 komentar on "Rahasia Sukses Nuryati Seorang TKI Yang Kini Jadi Dosen"

Poskan Komentar