Kamis, 24 Februari 2011

Hubungan Hamba dengan Tuhannya

Sebagian orang ada yang menyangka bahwa hubungan antara hamba dengan Tuhannya adalah cukup dilakukan dengan melaksanakan ibadat lahir saja (syariat) tanpa disertakan hubungan hati berma'rifat kepada Allah. Mereka menyangka bahwa demikianlah cara beribadat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Padahal Rasulullah sendiri telah memberikan garis dan dasar yang kuat dengan sabda beliau,
"Tidak sah suatu ibadat, kecuali disertai dengan hati yang berma'rifat".

Kita sendiri dapat merasakan kalau ibadat kita tidak mempunyai pertalian hati kepada Allah. Sudah tentu cara demikian tidak termasuk golongan ibadah yang ikhlas. Satu-satunya ciri khas, bahwa ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang menyejukkan hati dan terasa lezat mengerjakannya.

Syeikh Ibnu 'Athaillah telah berkata dalah kitabnya "Syarah Hikmah", ada tiga golongan manusia yang beribadah kepada Tuhannya, yaitu :




  • Orang yang semata-mata melakukan ibadah yang lahir saja, tidak disertai dengan hati yang berma'rifat. Golongan ini mempunyai harapan yang besar untuk mendapatkan balasan pahala dari Tuhannya.







  • Ibadah yang disertai dengan hati yang hidmat. Golongan ini dapat merasakan bahwa dirinya dimiliki Allah dan gerak diamnya ditolong Allah. Dia mengerti maksud Allah, bahwa Allah sangat ridha kepada hamba-Nya yang melakukan ibadah disertai dengan pertolongan Allah (tidak dengan yang lain). Golongan ini termasuk yang menang dari hawa nafsu.







  • Ibadah yang terasa dekat kepada Allah lebih dekat dari urat lehernya. Golongan ini telah mengerti akan perjalanan hak Tuhannya yang disertakan Allah dimanapun dia berada. Antara dirinya dengan hak Allah tidak terhijab.






  • Setiap orang yang mengenal dirinya sebagai hamba Allah sudah tentu terlepas dari sifat kehambaannya, yaitu faqir, dhaif, hina, dan kekurangan. Kemudian dia mengenal pula sifat Tuhannya yaitu, kaya, kuasa, kuat, mulia, dan sempurna.

    Ingatlah bahwa Rasulullah memanggil umatnya sebanyak-banyaknya supaya menjalankan tasdiq kalimah tauhid dengan menghapuskan kekuatan kita dan menggantikannya dengan hak Allah, menghapuskan sifat kita dan menggantinya dengan sifat Allah.

    Tujuan tauhid yang sebenarnya adalah untuk menegakkan sifat kehambaan kepada Allah yang disebut dengan sifat ubudiah.

    Ciri sifat ubudiah itu adalah sebagai berikut:

    1. Tercabutnya sifat basyariah, yakni hilang rasa serba aku seperti, aku kuat, aku gagah, aku pintar, dan sebagainya.
    2. Dekat kehadirat ahad, yaitu menuju keesaan Allah Ta'alaa.
    3. Hapus aghyar (gangguan dihati).
    4. Ruh rindu kepada Allah yang menjadikannya dan yang ke;
    5. terbuka rahasia Allah atau rahasia ketuhanan.
    http://andimuhammadaliblogs.blogspot.com/

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar

    Kamis, 24 Februari 2011

    Hubungan Hamba dengan Tuhannya

    Diposkan oleh Wanita Sholehah di 04.45
    Sebagian orang ada yang menyangka bahwa hubungan antara hamba dengan Tuhannya adalah cukup dilakukan dengan melaksanakan ibadat lahir saja (syariat) tanpa disertakan hubungan hati berma'rifat kepada Allah. Mereka menyangka bahwa demikianlah cara beribadat yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Padahal Rasulullah sendiri telah memberikan garis dan dasar yang kuat dengan sabda beliau,
    "Tidak sah suatu ibadat, kecuali disertai dengan hati yang berma'rifat".

    Kita sendiri dapat merasakan kalau ibadat kita tidak mempunyai pertalian hati kepada Allah. Sudah tentu cara demikian tidak termasuk golongan ibadah yang ikhlas. Satu-satunya ciri khas, bahwa ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang menyejukkan hati dan terasa lezat mengerjakannya.

    Syeikh Ibnu 'Athaillah telah berkata dalah kitabnya "Syarah Hikmah", ada tiga golongan manusia yang beribadah kepada Tuhannya, yaitu :




  • Orang yang semata-mata melakukan ibadah yang lahir saja, tidak disertai dengan hati yang berma'rifat. Golongan ini mempunyai harapan yang besar untuk mendapatkan balasan pahala dari Tuhannya.







  • Ibadah yang disertai dengan hati yang hidmat. Golongan ini dapat merasakan bahwa dirinya dimiliki Allah dan gerak diamnya ditolong Allah. Dia mengerti maksud Allah, bahwa Allah sangat ridha kepada hamba-Nya yang melakukan ibadah disertai dengan pertolongan Allah (tidak dengan yang lain). Golongan ini termasuk yang menang dari hawa nafsu.







  • Ibadah yang terasa dekat kepada Allah lebih dekat dari urat lehernya. Golongan ini telah mengerti akan perjalanan hak Tuhannya yang disertakan Allah dimanapun dia berada. Antara dirinya dengan hak Allah tidak terhijab.






  • Setiap orang yang mengenal dirinya sebagai hamba Allah sudah tentu terlepas dari sifat kehambaannya, yaitu faqir, dhaif, hina, dan kekurangan. Kemudian dia mengenal pula sifat Tuhannya yaitu, kaya, kuasa, kuat, mulia, dan sempurna.

    Ingatlah bahwa Rasulullah memanggil umatnya sebanyak-banyaknya supaya menjalankan tasdiq kalimah tauhid dengan menghapuskan kekuatan kita dan menggantikannya dengan hak Allah, menghapuskan sifat kita dan menggantinya dengan sifat Allah.

    Tujuan tauhid yang sebenarnya adalah untuk menegakkan sifat kehambaan kepada Allah yang disebut dengan sifat ubudiah.

    Ciri sifat ubudiah itu adalah sebagai berikut:

    1. Tercabutnya sifat basyariah, yakni hilang rasa serba aku seperti, aku kuat, aku gagah, aku pintar, dan sebagainya.
    2. Dekat kehadirat ahad, yaitu menuju keesaan Allah Ta'alaa.
    3. Hapus aghyar (gangguan dihati).
    4. Ruh rindu kepada Allah yang menjadikannya dan yang ke;
    5. terbuka rahasia Allah atau rahasia ketuhanan.
    http://andimuhammadaliblogs.blogspot.com/

    0 komentar on "Hubungan Hamba dengan Tuhannya"

    Poskan Komentar